Selasa, 20 Januari 2009

Membangun Sistem ISlam



MEMBANGUN SISTEM ISLAM

DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

(IQAMAT AL-MANHAJ AL-ILAHI)

OLEH

SAHRUL MAULUDI

MAHASISWA PASCA SARJANA MAGISTER STUDI ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM ASY-SYAFIIYAH


A. MAKNA ISLAM SEBAGAI SISTEM HIDUP

Untuk memahami makna Islam sebagai sistem hidup maka kita mulai dari unsur yang paling dasar dari agama. Sebagaimana dijelaskan Ismail Raji Al-Faruqi bahwa inti pengalaman keagamaan adalah Tuhan. Kalimat syahadat mengenai penegasan bahwa tiada Tuhan selain Allah, menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan, tindakan dan pemikiran setiap Muslim. At the core of religious experience stands God. The shahadah (confession of Islamic faith; the witnessing that there is no god but God and Muhammad is His Messenger. The name of God, ‘Allah’, which simply means ‘The God’, occupies the central position in every Muslim place, every Muslim action, every Muslim thought. The presence of God fills the Muslims consciousness at all times. With the Muslim, God is indeed a sublime obsession”.[1]

Jadi makna Islam sebagai sistem hidup, yang pertama sekali adalah keberadaan Allah sebagai inti dari semua pemikiran, tindakan dan aktivitas manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Islam sebagai sistem hidup berarti teosentris, berpusat pada Tuhan, namun berwujud nyata dalam tindakan. Konsep Ketuhanan dalam Islam tidak semata-mata bersifat filosofis tetapi, seperti menurut Hassan Hanafi, konsep Tuhan harus melibatkan kehidupan manusia dan tindakan sosialnya yang terkait dengan progress, development, social change, social justice, revolution, freedom, equality, liberation. Kata Hassan Hanafi, God is not an object to be proved theoretically, but an intentionality to be realized practically.[2] Dengan begitu baru bisa dikatakan bahwa Tauhid memiliki makna sebagai fondasi bagi sistem hidup, yaitu berdasar pada “Tauhid actual”. Jika tidak demikian, berarti agama (seperti yang dikatakan Karl Marx), religion is opium of society dimana penganut agama tenggelam dalam ideal-ideal agama dan tidak melihat realitas sosial yang problematik.

Makna yang kedua Islam sebagai sistem hidup adalah kedudukan wahyu yang diterima Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk Tuhan yang menjadi sistem kepercayaan, sistem norma dan tindakan, yang menjadi pedoman bagi manusia sebagai individu dan masyarakat. Dengan wahyu ini manusia mememiliki orientasi atas apa yang menjadi kehendak Tuhan, serta standar untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah. Seperti kata al-Faruqi: “Revelation is not the disclosure of God but the making known of His will and Commandments. Its object is knowledge, and only knowledge. It is offered as a warning against error and pitfall, as guidance to the truth”.[3]

Keberadaan Tuhan dan wahyu (serta figur Muhammad saw sebagai penerima wahyu) merupakan landasan bagi sistem kepercayaan, nilai dan norma bagi semua aktifitas Muslim Menurut Sayyid Quthb: “A believing Muslim is one into this declaration [la ilaaha illallah Muhmaadur rasullullah] has penetrated completely, as the other pillars of Islam and articles of faith are derivates of it. Thus, belief in angels and God’s Books and God’s Messengers and the life hereafter and al-Qadr (the measurement of good and evil), and al-Salat (prayers), al-Siyam (fasting), al-Zakat (poor-due) and al-Hajj (pilgrimage), and the limits set by God of permissible and forbidden things, human affairs, laws, Islamic moral teachings, and so on, are all based on the foundation of worship of God, and the source of all these teaching is the person of the Prophet—peace be on him—through whom God has revealed to us”.[4]

Singkatnya, makna Islam sebagai system hidup dapat disederhanakan menjadi tiga unsur epistemology relasional yaitu Tuhan, wahyu (kenabian), dan masyarakat.

B. UNSUR-UNSUR SISTEM

Unsur-unsur dari system ini, dapat kita telusuri melalui bagian-bagian dari ajaran Islam. Menurut Yusuf al-Qardhawi unsur fundamental Islam ini terdiri atas: Faith, Form of worship, Ethics and moral, Legislation[5] Dengan kata lain secara garis besarnya unsur-unsur system Islam yang fundamental adalah aqidah, syariah dan akhlak. Atau seperti disebut sebelumnya Tuhan, wahyu (kenabian) dan masyarakat

Sebagai sebuah system yang bertujuan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, unsur-unsur system ini saling berhubungan. Dalam definisi sosiologis, sistem dapat diartikan : A System consists of elements with mutually dependent parts joined in a more-or-less stable manner through time. Change of movement in one part affects the other parts.[6] Dalam system epistemology relasional antara Tuhan, wahyu, dan masyarakat, maka antara ketiga bagian ini saling memberikan pengaruh. Sebagai contoh, perubahan pada corak system teologi determinisme menjadi teologi liberal akan menentukan perubahan pada konsep manusia dan masyarakat. Seperti system teologi yang dianut pada masa Auklarung umumnya adalah Deisme dengan kepercayaan terhadap kepastian dan keuniversalan hukum-hukum alam ciptaan Tuhan. Teologi ini telah menumbuhkan spirit eksplorasi alam dan menjadi dukungan kuat bagi kemajuan sains dan teknologi.

Dalam sejarah Islam, Harun Nasution juga menilai bahwa sistem teologi yang dianut umat Islam klasik umumnya adalah ”teologi sunnatullah” (istilah Harun Nasution untuk teologi yang menghargai akal dan kebebasan manusia serta kepercayaan terhadap hukum-hukum alam ciptaan Allah) sehingga mendorong kreatifitas dan progresifitas umat Islam dalam peradaban dan ilmu pengetahuan. Sedangkan di jaman pertengahan sistem teologi ini digantikan dengan teologi fatalisme yang berpengaruh atas kemunduran masyarakat Islam.[7]

Jadi memang ada keterkaitan erat antara unsur-unsur sistem ini: antara konsep Tuhan, wahyu (kenabian) dan masyarakat dimana corak satu unsur akan menentukan pula corak perubahan pada unsur yang lainnya. Karena itu sebagian besar dari para pembaru pemikiran Islam modern selalu memulai proyek mereka dengan rekonstruksi teologi Islam, dari teologi jabbari ke teologi sunnatullah (teologi rasional) mengingat pengaruhnya yang besar terhadap ilmu pengetahuan, kebudayaan dan masyarakat. Ciri seperti ini bisa kita lihat pada Abduh, Ahmad Khan, Iqbal, dst, sampai Harun Nasution.

C. PROSES MEMBANGUN SISTEM ISLAM

Menurut Amin Abdullah, Agama merupakan rasionalitas kebudayaan yang selalu merencanakan masa depan peradaban manusia yang lebih baik, melalui kerangka dialektika sisi teologis ke dalam kehidupan sosio-kultural.[8]

Jadi teologi (sebagai sistem ideala/ aspek normatif agama) mengalami dialektika dengan masyarakat dalam upayanya menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi dalam konteks historis, ruang dan waktu. Dan seperti dijelaskan sebelumnya sistem teologi ini memiliki pengaruh terhadap corak perkembangan masyarakat.

Dalam sosiologi Weberian adalah mungkin untuk merealisasikan ideal type menjadi sistem sosial sepert kasus etika protestan dan spirit kapitalisme.[9] Ada jembatan antara system ideal teologi menuju pembangunan masyarakat seperti yang tertuang dalam wahyu untuk direalisasikan sebagai sistem sosial budaya. Jadi transformasi ini bukan suatu jenis utopia.

Dalam ssstem Islam yang memiliki konsep epistemology relasional antara Tuhan, wahyu (kenabian) dan masyarakat, tujuan akhirnya adalah pembangunan masyarakat manusia itu sendiri, seperti disebut al-Qardawy, yaitu membentuk: Righteous man, Righteous Family, Righteous Society, Righteous Nation, Righteous State.[10] Jadi harus ada langkah maju dari teologi ke empirisme sosial, dari transendensi ke kehidupan sosio-kultural.

Jika kita bertitik tolak pada tujuan Islam seperti disebut al-Qardawy, maka proses membangun sistem Islam harus dimulai dari tingkat individu hingga negara. Jadi proses membangun sistem Islam dimulai dari tingkat terkecil, dari membentuk individu yang benar, keluarga yang benar, masyarakat yang benar hingga negara yang benar.

Kemudian parameter dari tercapai atau tidaknya kelima unsur di atas (yaitu transformasi dari idealisme teologi ke empirisme sosio-kultural), adalah sejauh mana masyarakat telah mewujudkan tatanan masyarakat yang bermoral (masyarakat yang baik). Dengan kata lain ajaran Islam sebagai sistem kepercayaan, nilai dan norma, telah menjadi sistem kebudayaan masyarakat. Seperti kata Abdurrahmaan b. Abdul-Kareem al-Sheha[11] :The most important goals which Islam calls to and utterly preserves are the preservation of religion, life, honor, wealth, mind, offspring, as well as the preservation of the rights of the weak and disabled. Yang menurutnya berasal dari apa yang telah disampaikan Rasul pada khutbatul wada:

The Prophet (peace be upon him) said in Mina. in his Farewell Pilgrimage: .Do you know which day this is?. They (i.e. his companions) replied, .Allah and His Messenger know best.. He said, .Indeed this is a sacred Day (the Day of .Arafah in Hajj). Do you know which place this is?. They (his companions) replied, .Allah and His Messenger know best.. He said, .A sacred place (Mecca and its surroundings). Do you know which month this is?. They (his companions) replied, .Allah and His Messenger know best.. He said, .A sacred month (the month of Dhul-Hijjah, the 12th month of the Islamic Calendar). Indeed, Allah has made your lives, your wealth, and your honor inviolable and sacred, like the sanctity of this [sacred] day, in this [sacred] month, in this [sacred] place.. (al-Bukhari)

Tujuan terbentuknya sistem sosial yang bermoral ini sesungguhnya merupakan tujuan wahyu sendiri. Kata Fazlur Rahman There is no doubt that a central aim of the Qur’ān is to establish a viable social order on earth that will be just and ethically based. …..Certainly, the concepts of human action, particularly that of taqwā, are meaningful only within a social context.[12]

Ke arah inilah bentuk perjuangan dan tujuan dakwah di arahkan. Yaitu membentuk masyarakat yang menjadikan Tauhid dan nilai-nilai moral Islam sebagai sistem social-budaya, yang tercermin dalam bentuk masyarakat yang berTauhid, egaliter, adil, damai, tertib, saling menghormati, empati, dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.

Wallahu a’lam bish shawab


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahmaan b. Abdul-Kareem al-Sheha, The Message of Islam, (www.islamland.org)

Beth B. Hess, Elizabeth W. Markson, Peter J. Stein, Sociology, (New York: Mcmillan Publishing Company, 1988).

Fazlur Rahman, The Major Themes of the Quran, ( www.islambasics.com).

Gregory Baum, Agama dalam Bayang-Bayang Relativisme, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999),

cet-1.

Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1996), cet-4., h.112-116

Hassan Hanafi, Islam in the Modern World: Tradition, Revolution, and Culture, (Heliopolis: Daar Kebaa Bookshop, 2000)

Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid Its Implications for Thought and Life, (International Institute of Islamic Thought, Herdon Virginia, USA, 1992), second edition

Ismail L. Al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, The cultural Atlas of Islam, (New York Mcmillan publishing company, 1986)

James W. Vander Zanden, The Social Experience, An Introduction to Sociology, (USA: McGraw Hill, 1990), second edition, h.20.

Sayyid Quthb, The Milestone, (www.Islambasics.com)

Yusuf al-Qardawy, Introduction to Islam, (Islamic Inc. Cairo Egypt, 1995)



[1] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid Its Implications for Thought and Life, (International Institute of Islamic Thought, Herdon Virginia, USA, 1992), second edition, h.1

[2] Pembahasan Hassan Hanafi tentang perlunya transformsi dan aktualisasi konsep Tauhid bagi konteks social lihat Hassan Hanafi, Islam in the Modern World: Tradition, Revolution, and Culture, (Heliopolis: Daar Kebaa Bookshop, 2000), h. 129-136

[3] Ismail L. Al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, The cultural Atlas of Islam, (New York Mcmillan publishing company, 1986), h.231

[4] Sayyid Quthb, The Milestone, (www.Islambasics.com)

[5] Penjelasan selengkapnya lihat Yusuf al-Qardawy, Introduction to Islam, (Islamic Inc. Cairo Egypt, 1995), h.35 -104

[6] Beth B. Hess, Elizabeth W. Markson, Peter J. Stein, Sociology, (New York: Mcmillan Publishing Company, 1988)., h.77

[7] Lihat uraiannya dalam Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1996), cet-4., h.112-116

[8] Dalam kata pengantar buku Gregory Baum, Agama dalam Bayang-Bayang Relativisme, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), cet-1., h.xxi

[9] Max Weber believed he identified the source of the capitalist ethos in the religious doctrines of John Calvin. The puritans of colonial Massachussetts were followers of the Calvinisme tradition. The ethic encouraged hard work, sobriety, thrift, restraint, and the avoidance of earhlty pleasure. Weber said these values are consistent with the spirit of capitalism and foster practices that lead people to amass capital and achieve economic success. James W. Vander Zanden, The Social Experience, An Introduction to Sociology, (USA: McGraw Hill, 1990), second edition, h.20.

[10] al-Qardawy, op.cit., h.177-271. Ke arah inilah umat Islam sekarang ini harus mencurahkan perhatiannya, yang seringkali justru lebih banyak perhatian terhadap Tuhan dan wahyu. Lalu untuk masyarakatnya kapan?

[11] Abdurrahmaan b. Abdul-Kareem al-Sheha, The Message of Islam, www.islamland.org., h.16

[12] Fazlur Rahman, The Major Themes of the Quran, ( www.islambasics.com)., h.25

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar