Selasa, 20 Januari 2009

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN & ILMU PENGETAHUAN

DAN AGENDA DAKWAH KONTEMPORER

OLEH

SAHRUL MAULUDI

MAHASISWA PASCA SARJANA MAGISTER STUDI ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM ASY-SYAFIIYAH



A. PENDAHULUAN

Kemajuan suatu kebudayaan dan peradaban—yang di dalamnya termasuk pendidikan dan ilmu pengetahuan—tidak bisa dilepaskan dari ide dasar yang menjadi fondasi kebudayaan tersebut. Ide dasar ini mencakup pandangan hidup (world view), cara berpikir, dan sistem nilai. Hal ini seperti dijelaskan oleh Malik Bennabi: ”Civilization is the product of fundamental idea that imparts to a pre-civilized society the trust that drives it onto the stage of history. Such a society would start constricting its system of ideas in accordance with that fundamental idea or archetype. It thus takes root in such original cultural plasma that will determine all its distinctie characteristics with regard to other culture and civilizations.”[1]

Demikianlah maka untuk memahami kemajuan peradaban Islam, kita tidak bisa memisahkan dari ide dasarnya, yaitu wahyu Tuhan (al-Quran dan Sunnah) yang menjadi spirit kemajuan Islam dan merealisasikan karakter unik yang membedakannya dari peradaban-peradaban lainnya. Semangat dasar al-Quran dan Haditslah yang menjadi sumber kehausan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan memotivasi kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, yang semua itu bertujuan merealisasikan cita-cita untuk mengungkap ayat-ayat Allah di segenap penjuru alam semesta. Mahmoud M. Ayoub menjelaskan: It is clear from the Quran, the hadith, and Islamic history itself that love and thirst for knowledge is part of Islam. But our quest for knowledge should be guided in the same way as it was for our earliest thinkers: toward the discovery of Divine and moral law, and toward individual perfection and the common good. And there is no science, no type of knowledge, which does not contribute to this quest (al-baqarah: 26). The Muslim knows that the divine truth is represented in everything and every circumstance, and he or she searches for that truth as an act of faith. All knowledge can be Islamic knowledge.[2]

Apa yang akan di uraikan dalam catatan sejarah Islam di bawah ini merupakan pengejawantahan dari semangat dasar tersebut, yang telah begitu kuat tertanam dalam pemikiran umat Islam.

Makalah ini terdiri dari 6 bagian, yaitu:1) Lembaga-lembaga pendidikan yang berdiri saat itu (awal abad 1 H hingga abad ke 4 H); 2) Proses belajar mengajar; 3) Berkembangnya ilmu-ilmu aqliyah (rasional); 4) Pengaruh ilmu pengetahuan Islam di Barat; 5) Kesimpulan

B. LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN YANG BERDIRI SAAT ITU

Sebagai agama yang menaruh perhatian terhadap ilmu pengetahuan, maka sejak awal sekali umat Islam telah berkonsentrasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Hal ini kemudian berlanjut pada kebutuhan terhadap institusi sebagai wadah pendidikan. Maka berkembanglah instutisi pendidikan mulai dari masjid, madrasah, lembaga riset, dll. Menurut George A. Makdisi, dahaga intelektual umat Islam telah memicu lahirnya berbagai lembaga pendidikan dan sejumlah metode-metode pembelajaran”. Keadaan ini berpengaruh besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam yang puncaknya bisa kita lihat pada lembaga pendidikan Baghdad yang menjadi pusat intelektual dunia, juga sebagai institusi yang memiliki spirit metode saisn yang progresif dan baru: In early days at least, the Muslims were eager seekers for knowledge, and Baghdad was the intellectual center of the world. Historians have justly remarked that the school of Baghdad was characterized by a new scientific spirit. Proceeding from the known to the unknown; taking precise account of phenomena; accepting nothing as true which was not confirmed by experience, or established by experiment, such were fundamental principles taught and acclaimed by the the masters of the sciences.[3]

1. Masjid Jami

Masjid jami merupakan lembaga pendidikan tertua di dunia Islam yang digunakan sebagai tempat pengajaran humaniora dan ilmu-ilmu agama. Para guru sering mengajar dua bidang ini sekaligus sejak abad ke-2 H/ 8 M. Masjid jami yang menjadi pusat pendidikan antara lain, Masjid Bashrah, masjid Amr ibn al-Ash di Kairo, masjid Umayyah Damaskus, masjid Iskandariyah, Masjid Sinjar, masjid Manshur Baghdad, Masjid Aleppo,.dll.[4]

2. Madrasah

Madrasah merupakan institusi pendidikan formal dalam sejarah Islam awal.dan dibangun menjadi perguruan tinggi dan universitas pada 4 H/10M. Madrasah tersusun dari sekolah sederhana dengan seratus atau dua ratus murid, hingga universitas, seperti Qarawiyyin di Fez (Maroko) yang usianya lebih dari 1100 tahun, al-Azhar yang dibangun lebih dari 1 milenium lalu di Kairo, dan tetap menjadi lembaga pendidikan Sunni terbesar. Semua dibangun dengan sistem univeritas degan beberapa kampus, seperti pada lembaga Nizhamiyyah yang dibangun di Baghdad dan juga di Khurasan yang dibangun oleh wazir Seljuk, Khwajah Nizam al-Mulk.[5]

3. Perguruan Tinggi Hukum

Abad ke-10 M merupakan saat menjamurnya perguruan-perguruan tinggi hukum. Dan paruh kedua abad ini ditandai dengan lahirnya ilmu-ilmu hukum berikut lembaga-lembaga pendidikannya.[6]

Sebelum kemunculan perguruan tinggi hukum, dunia Islam telah memiliki lembaga pendidikan yang menyatu dengan masjid. Ada dua jenis masjid yang dibangun sejak periode pertengahan Islam, yaitu masjid jami dan surau. Masjid jami merupakan masjid agung tempat dilangsungkannya salat dan khutbah jum’at. Sedangkan surau merupakan masjid kecil yang tersebar dipenjuru kota Islam. Surau-surau inilah yang kelak berkembang menjadi perguruan-perguruan tinggi hukum pertama yang dikembangkan oleh madzhab-madzhab fikih. Surau-surau semacam itu telah ada sejak awal kelahiran Islam, dan sekaligus berfungsi sebagai sekolah ilmu-ilmu agama dan ilmu lainnya termasuk kajian bahasa dan sastra. Surau-surau yang kemudian berkembang menjadi perguruan tinggi, cirinya antara lain memiliki asrama untuk pelajar. Surau seperti ini mulai bermunculan pada abad ke-10 M.[7]

4. Maktab atau Kuttab

Lembaga pendidikan lain dalam sejarah Islam dikenal juga Maktab atau Kuttab, lembaga yang secara khusus mengajarkan adab atau kajian humaniora. Institusi ini sudah ada sejak awal abad pertama Islam. Keberadaannya dapat dijumpai diseluruh pelosok dunia muslim, termasuk Spanyol dan Sisilia di daratan Eropa.

Maktab atau Kuttab sering dianggap sebagai sekolah tingkat dasar. Namun ia juga sebetulnya adalah sekolah tingkat menengah dan berfungsi juga sebagai perguruan tinggi.[8]

5. Perpustakaan Dan Lembaga Penerjemah

Perpustakaan dengan segala jenisnya, dikenal dengan beberapa nama, yaitu dar, bayt, dan khizanah, yang digabungkan dengan kata al-’ilm, al-hikmah, dan al-kutub. Perpustakaan berfungsi sebagai ruang baca, pusat aktivitas akademis, dan ruang diskusi.[9] Perpustakaan yang berfungsi seperti ini antara lain Bait al-Hikmah yang idirikan oleh al-Makmun sebagai lembaga penerjemah sekaligus berfungsi sebagai universitas.

6. Rumah Sakit Dan Observatorium

Pengajaran sains alam juga terdapat di luar madrasah, seperti di rumah sakit Baghdad pada abad ke 9 M dimana dokter ternama, Muhammad bin Zakaria al-Razi mengajarkan fisika dan kedokteran. Begitu juga di observatorium-observatorium yang dibangun di wilayah-wilayah Islam sebagai lembaga ilmu pengetahuan pertama (the first scientific institution), diajarkan matematika astronomi, logika dan filsafat. Contohnya adalah observatorium Maragha di bawah Nasir al-Din Tusi.[10]

7. Zawiyah (the Sufi centre)

Institusi lain yang berpengaruh besar pada pendidikan Islam adalah pusat Sufi (the Sufi centre) yang disebut zawiyah. Ia menjadi tempat pengajaran bentuk pengetahuan yang lebih tinggi, yang disebut Divine Knowledge (al-ma’rifah atau irfan). Sufisme memfokuskan perhatian pada latihan jiwa manusia agar dapat menjadi wadah Kehadiran Tuhan. Karena itu ia konsern dengan pendidikan sebagai tarbiyah dalam level yang tertinggi.[11]

C. Proses Belajar Mengajar

Aktifitas utama madrasah [dan umumnya lembaga pendidikan Islam saat itu] adalah pengajaran ilmu-ilmu agama, khususnya syariah, ushul, fiqh, dll.Studi mengenai hukum-hukum syariat berdasarkan pada studi al-Quran dan tafsir, serta hadits. Teologi yang telah mencapai aktifitas intensifnya di Baghdad pada abad 3H/9M – 4H/10M, termasuk dalam ilmu naqli (the transmitted science) yang diajarkan bersama ilmu-ilmu naqliyyah tersebut, mendominasi aktifitas pendidikan di semua madrasah.[12]

Selain itu diajarkan pula disiplin ilmu-ilmu lain, seperti logika, matematika, sains alam, dan filsafat. Ilmu-ilmu ini dicapai melalui intelegensi manusia dan tidak didapat sebagaimana ilmu agama, karena itu disebut intellectual sciences (aqli). Pembagian ilmu ini menunjukkan kurikulum dari madrasah-madrasah, yang keduanya diajarkan dengan sama baik hingga beberapa abad. [13]

Metode Belajar yang ada pada saat itu adalah:

  1. Hafalan

Metode hafalan memainkan peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Hafalan berperan penting, baik dalam pengembangan ilmu-ilmu humaniora maupun dalam kajian skolastik. Metode hafalan melibatkan sejumlah bahan bacaan. Setiap pelajar harus membaca bahan-bahan tersebut, kemudian berusaha memahaminya, dan menyimpannya dalam memori dengan cara mengulangi bahan bacaan itu.

  1. Mudzakarah dan Munazharah

Dalam kajian humaniora, istilah mudzakarah paling sering dalam arti diskusi ilmitah. Di masjid Bashrah ada beberapa lngkaran studi (halaqah). Mudzakarah digunakan sebagai alat untuk belajar dan menghafal bahan-bahan kajian adab agar tetap segar dalam ingatan. Selain itu juga sebagai cara bersama untuk mendapatkan pengetahuan.

Selain itu mudzakarah juga sering berarti munazharah ketika semua orang yang hadir terlibat dalam suatu perdebatan tentang suatu masalah.

Sedangkan metode mengajar yang dikenal saat itu adalah:

  1. Dikte

Imla atau dikte merupakan metode yang biasa digunakan dalam pengajaran. Selain dikte digunakan juga metode tadris yang berarti menjelaskan teks-teks. Metode ini digunakan baik dalam bidang ilmu kalam dan fiqh terutama pada abad ke 10 M.

  1. Belajar otodidak

Di luar bidang ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dasar penunjang kajian adab, para pelajar biasanya akan mempelajari sendiri berbagai cabang pengetahuan lain dalam rumpun humaniora dan ilmu-ilmu asing alinnya tanpa dibantu oleh gurunya.

Karena lembaga-lembaga pendidikan tinggi bertujuan untuk menghasilkan para pakar kajian agama Islam, dan ilmu sastra diajarkan hanya sebagai tambahan, maka mereka yang ingin mencari pengetahuan di bidang lain, atau pendidikan yang lebih tinggi dalam kajian humaniora, harus berusaha sendiri. Cabang-cabang pengetahuan yang paling banyak dipelajari secara otodidak diantaranya meliputi ilmu-imu asing seperti filsafat, kedokteran, ilmu alam, matematika atau cabang ilmu pengetahuan lain dalam rumpun ilmu adab seperti syair, sejarah, retorika, musik dan kaligrafi.[14]

D. BERKEMBANGNYA ILMU-ILMU AQLIYAH (RASIONAL)

1. Masa Hellenisme, Awal Masuknya Pemikiran Rasional

Ketika kaum Muslimin menaklukan Iraq, terjadi kontak dengan tradisi pengetahuan Yunani. Beberapa lembaga ilmu pengetahuan telah berdiri, kebanyakan Kristen. Paling terkemuka salah satunya di Jundishapur dekat teluk Persia. Bahasa yang digunakan adalah Syiriac dan buku-buku yang dibutuhkan diterjemahkan dari Yunani ke Syiriac. Bidang kedokteran khususnya Hippokrates dan Galen, juga filsafat Aristoteles dan Plato bersama matematika dan sains lainnya.

Para pemerintah Muslim nampaknya tertarik pada fisika. Para khalifah Abbasiyah memiliki seorang fisikawan Nestorian pada 765-870 M. Penerjemahan karya-karya kedokteran dari Syiriac ke Arab telah dimulai pada masa Umayyah, tetapi dampak sesungguhnya dari pemikiran Yunani dimulai setelah al-Makmun membangun sebuah perpustakaan dan sebuah tim penerjemah di ”House of Wisdom” (Baitul Hikmah).[15]

Selama masa penerjemahan ini, yang berlangsung sampai abad ke 11 M, bahasa Arab dibangun, dan pengetahuan mengenai materi subjek meningkat, penerjemahan terus direvisi. Selama itu pula orang-orang Arab telah mengambil semua yang meraka perlukan dari Yunani, khususnya filsafat dan sains. Penulis Yunani terkenal terutama yaitu: Aristoteles, Plato, Galen, dan Euclid.

Perjemahan buku-buku Yunani merupakan salah satu faktor perubahan intelektual yang meramaikan (membesarkan) dunia Islam pada abad ke 9 M. – 12 M. Selain itu karya-karya India juga diterjemahkan, meskipun yang utama dalah Yunani.[16] Menurut Montgomery Watt, adalah penting untuk melihat pengaruh Yunani dalam perspektif yang tepat. Dimana pemikiran kaum Muslim bukanlah tabularasa yang kosong yang kemudian di isi ide-ide Yunani. Ada aktifitas intelektual yang intens diantara kaum Muslim sebelum masa penerjemahan, khususnya persoalan-persoalan hukum dan argumen-argumen diantara aliran-aliran, yang dari kondisi ini mereka banyak mengasimilasikan pemikiran Yunani. Dengan kata lain, pemikiran Yunani berpengaruh pada dunia Islam karena saat itu tengah terjadi proses intelektual sehingga memungkinkan ide-ide Yunani diambil.[17]

Selain itu menurut Watt, aktifitas kelompok falasifa (filosof Muslim) seperti al-Kindi sebagai the first person to attempt to naturalize Greek philosophy in the Islamic world, semakin memuluskan jalan ide-ide Yunani ke dunia Islam. Juga penerimaan ini adalah karena kerja sekelopok teolog (akhir abad ke 8 M) yang dikenal Mu’tazilah yang menyusun sistem teologi mereka dengan pemikiran Yunani.[18]

2. Tumbuhnya Cabang-Cabang Ilmu Aqliyah

Umat Islam tidak mengenal ilmu-ilmu aqliyyah (khususnya natural science) sampai mereka menyerap literatur-literatur ilmu pengetahuan dari Yunanni. Karena itu menurut Watt, masih adanya satu pandangan yang mengecilkan karya-karya Muslim dan menghargai mereka sebagai tidak lebih dari transmitter ide-ide Yunani. Tidak bisa dipungkiri, lanjut Watt, bahwa orang-orang Arab merupakan murid Yunani. Sains dan filsafat di Arab muncul melalui stimulus dari penerjemahan dari Yunani, bersama dengan keberadaan lembaga (perguruan tinggi) di Iraq yang merupakan tradisi hidup pemikiran Yunani.[19]

Namun warisan klasik ini kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga umat Islam bukan hanya sekedar penerjemah saja. Mereka mengembangkan lebih lanjut secara kreatif warisan-warisan tersebut. Inilah sebabnya ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam berbeda dari segi metode dan tujuannya. Al-Faruqi menggambarkan: “Islamic knowledge is the rational—empirical and intuitive—apprehension of every realm of reality. It is the critical knowledge of man and history, of earth and heaven. It is the tested, practical knowledge that produce results and leads to virtue, the object of the Muslim’s prayer. ‘O God, grant us a a knowledge that is useful and beneficial!’ It is at the farthest possible remove from speculation, which Islam condemns as vain and idle”.[20]

Karena itulah dalam bidang sains alam, ilmuwan Muslim memiliki kontribusi besar bagi lahirnya metode eksperimen yang memungkinkan ilmu itu terus berkembang dan menghasilkan penemuan-penemuan baru. Ini membedakan dari sains Yunani yang masih banyak mengandalkan spekulasi daripada eksperimen.[21] Al-Faruqi menegaskan bahwa para ilmuwan Muslim telah menerapkan apa yang disebut scientific method seperti observasi, hipotesis, eksperimen, pengukuran data.[22]

Selain keunggulan metode, sains Islam juga bersifat spiritual. Esensi sains Islam, karena berada di bawah terang wahyu al-Quran, berbeda dari sains Yunani. Karena itu untuk memahami esensi Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip dan pandangan dunia Islam itu sendiri khususnya pandangan Tauhid.[23] Prinsip ini sangat penting dalam memahami sains Islam ataupun ilmu-ilmu rasional (aqliyah) yang berkembang dalam Islam, dan menjadi factor penting bagi kejayaan Islam, khususnya seperti yang di capai pada titik kulminasinya dimasa Harun al-Rasyid: The center of the world in all the arts and sciences became Baghdad, which the first Abbassid Caliph, Al-Mansur, took for his capital. The age of Haroun al-Rashid, the ninth-century Caliph renowned in the Arabian Nights, was among the most golden of historical ages. He surrounded himself with the fore-most physicians of the age, who had studied Persian, Greek and Indian medicine.[24]

Ilmu aqliyyah sebagai ilmu yang berdasarkan pada metode rasional dan penyelidikan terhadap alam semesta, dapat dibagi dalam 2 bidang, yaitu: Filsafat dan Sains

  1. Filsafat

Filsafat Islam merupakan disiplin ilmu yang tumbuh dalam Islam akibat dari masuknya pemikiran Yunani seperti Plato, Aristoteles, Neoplatonisme dan Phytagoras. Pemikiran mereka ini menarik kalangan terpelajar Muslim karena menyediakan metode berpikir rasional yang secara praktis sangat berguna dalam menghadapi ajaran-ajaran agama lain. Hans Daiber mengatakan, “Greek metaphysics, logic and natural philosophy seemed to offer the Islamic faith a rational foundation and to provide protection against new forces arising in non Islamic movements, above all in Christianity, Judaism, Zoroastrianism, and Manicheanism”.[25]

Oleh para filosof Muslim, pemikiran Yunani ini disintesiskan dengan ajaran wahyu, sehingga memiliki karakter berbeda. Bahkan bagi para filosof Muslim, wahyu merupakan otoritas kebenaran tertinggi. Seperti kata Sayyid Hussein Nashr, “Islamic philosophers who almost unanimously accepted revelation as a source of ultimate knowledge”.[26] Dalam filsafat Islam, akal dan wahyu tidak bertentangan; masing-msing memiliki kedudukan sendiri tetapi tidak dapat dipisahkan.[27]

Filsafat Islam merupakan salah satu aspek kebudayaan Islam yang penting, sehingga menurut Oliver Leaman, adalah penting untuk memahami aspek kebudayaan jika filsafat Islam betul-betul dipahami. Sehingga mempelajari filsafat Islam sangat diperlukan. Menurutnya, “The time has come to put Islamic philosophy within its appropriate context, that of philosophy, so that it can be recognized as a dynamic and living tradition”.[28]

Beberapa filosof yang terkenal antara lain: Al-Kindi, al-Farabi, Ar-Razi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih, Ibnu Bajjah, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd. Di bawah ini kami sebutkan sebagian saja dari para filosof tersebut.

1) Al-Kindi

Abu Ishaq Al-Kindi (801-873 M) adalah filosof Muslim yang pertama (dan keturunan Arab). Karena itu al-Kindi sangat tepat disebut sebagai “the Philosopher of the Arabs”.

Al-Kindi telah menerjemahkan beberapa buku filsafat, menjelaskan kesulitan-kesulitan di dalamnya, dan menyimpulkan teori-teori dasarnya. Karya-karyanya meliputi risalah-risalah singkat meliputi: Filsafat, logika, aritmatika, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, meteorologi, dimensi, dan mengenai metal, kimia, dll.

al-Kindi juga dikenal sebagai filosof Muslim yang yang menyesuaikan antara filsafat dan agama. Filsafat berdasarkan pemikiran, dan agama berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan keimanan merupakan jalan agama. Kesesuaian antara agama dan filsafat berdasarkan 3 argumennya: 1). teologi adalah bagian dari filsafat, 2). Wahyu yang diterima Nabi dan kebenaran filsafat adalah sesuai satu sama lain, 3).Mempelajari teologi secara logika diharuskan

Al-Kindi adalah filosof pertama dalam Islam yang berpengaruh pada penyesuaian antara agama dan filsafat. Ia meratakan jalan bagi al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[29]

2) Al-Farabi

Abu Nasr al-Farabi, lahir pada 258H/870M-339H/870 M. Dialah pendiri sesungguhnya sistem filsafat. Ia mengabdikan dirinya dalam kontemplasi dan spekulasi dan menyepi dari masalah-masalah politik dan sosial. Filsafatnya menjadi standar bagi pemikiran filosofis pelajar-pelajar setelahnya baik di Timur maupun di Barat lama setelah wafatnya. Ia digelari sebagai ma’alim ats-tsani (guru kedua) setelah Aristoteles.

Pemikiran filsafatnya yang utamanya meliputi:

  1. Logika. Kontribusi al-Farabi atas logika yaitu: a) ia telah menjelaskan secara tepat dan jelas logika ke dalam dunia percakapan arab.b) ia meletakkan dasar mengenai pembagian penalaran, yaitu: demonstratif, dialektik, sofistik, retorik dan puitik
  2. The unity of Philosophy. Al-Farabi berpandangan bahwa filsafat secara esensial adalah satu. Seperti Plato dan Aristoteles secara esensial adalah satu dan sama
  3. Theory of the ten intelligences.Teori yang menjelaskan 2 dunia: langit dan bumi. Dan menjadi fondasi bagi fisika dan astronomi. Teori ini menjelaskan 10 entitas akal-akal samawi dari akal pertama hingga akal ke 10 dimana akal 10 merupakan sumber pengetahuan bagi Nabi dan filosof.
  4. Theory of the intellect. Ia menjelaskan mengenai pembagaian antara akal teoritis dan akal praktis.

Selain dalam bidang filsafat, al-Farabi juga ahli di bidang matematika, musik, fisika, astronomi, psikologi, politik dan semua cabang ilmu yang berkembang saat itu. [30]

3) Ibnu Sina

Ibnu Sina (370H/980M-428H/1037M) adalah satu diantara filosof besar Islam yang membangun sistem filsafat yang komplet –suatu sistem filsafat yang dominan dalam tradisi filsafat Islam selama berabad-abad.

Keahliannya yang terkenal adalah kedokteran, filsafat, fisika, psikologi, dll. Pemikiran filsafatnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari apa yang sudah dirintis oleh al-Farabi sebelumnya. Tema-tema filsafatnya tidak berbeda dari al-Farabi. Namun argumentasi dan perinciannya berbeda, lebih rumit dan kompleks.

Seperti al-Farabi pemikiran filsafatnya mencakup metafisika dan kosmologi (yang bersifat emanasionistik), psikologi (mengenai hubungan antara ruh dan jasad serta penjelasan mengenai daya-daya manusia), filsafat etika dan politik, teori pengetahuan (Theory of knowledge) serta filsafat kenabian[31]

4) Ibnu Bajjah

Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya al-Saigh atau lebih terkenal sebagai Ibnu Bajjah adalah salah seorang diantara para cendekiawan Muslim yang lahir di Saragossa tahun 1082 M, Ibnu Bajjah merupakan seorang sastrawan dan ahli bahasa yang unggul. Selain itu, Ibnu Bajjah juga ahli di bidang musik. Dalam waktu yang sama, Ibnu Bajjah amat terkenal dalam bidang pengobatan dan merupakan salah seorang dokter terkenal yang pernah dilahirkan di Andalusia.

Kehebatannya pun turut terlihat dalam bidang politik sehingga ia dilantik menjadi menteri semasa Abu Bakr Ibrahim berkuasa di Saragossa. Lebih menakjubkan lagi beliau dapat menguasai ilmu matematika, fisika, dan falak. Pada kesempatan itu beliau banyak menulis buku yang berkaitan dengan ilmu logika. Kemampuannya menguasai berbagai ilmu itu menjadikannya seorang sarjana teragung bahkan tiada bandingan di Andalusia. Sumbangannya dalam bidang keilmuan begitu besar.

Dalam bidang filsafat, kemampuan Ibnu Bajjah setara dengan al-Farabi ataupun Aristoteles. Dalam bidang ini ia mengemukakan gagasan filsafat ketuhanan yang menetapkan manusia dapat berhubungan dengan akal fa'al melalui perantaraan ilmu pengetahuan dan pembangunan potensi manusia.[32]

5) Ibnu Thufail

Ibnu Thufail yang lahir pada 1106 Masehi, di Asya, Granada (Spanyol) dikenal sebagai ahli hukum, tabib, dan ahli politik yang handal. Semasa pemerintahan al-Mu’min ibn Ali, Ibnu Thufail, yang bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad Ibnu Thufail al-Qisi, pernah dilantik sebagai pembantu Gubernur Wilayah Sabtah dan Tonjah di Maghribi. Ibnu Thufail juga pernah menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf, penguasa Dinasti al-Muwahidin. Kemudian posisinya itu digantikan oleh muridnya, Ibnu Rusyd. Ia juga melibatkan dirinya dalam bidang pendidikan, pengadilan, dan penulisan.

Walaupun Ibnu Thufail dikatakan telah menulis banyak buku, tapi hanya satu kitab yang masih ada hinnga kini. Kitab “Hay ibn Yaqzan”, sebuah novel filsafat bergaya sastra yang mengkisahkan petualangan dan benturan intelektual yang terjadi dimasanya. Di dalamnya juga menunjukkan pemikiran filosofisnya secara umum, dengan gaya bahasa yang menarik dan imajinasi yang indah. Tak heran bila diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.
Yang menarik pada buku itu, Ibnu Thufail berusaha menerangkan bagaimana manusia mempunyai potensi untuk mengenal Allah. Menurutnya, semua orang bisa ma`rifatullah bila melakukan penelitian terhadap alam sekitar dan sekelilingnya. Karena dari aktivitasnya itu bila terus dipelajari, seseorang akan sampai pada hakikat dari alam semesta sekaligus mengenal siapa yang menciptakannya. Ibnu Thufail juga mencoba menerangkan satu sistem filsafat berdasarkan perkembangan pemikiran yang ada pada diri manusia, yang mengungkap hubungan antara manusia, akal, dan Allah, melalui tokoh fiktif Hay ibn Yaqzan yang hidup di sebuah pulau di khatulistiwa[33]

6) Ibnu Rusyd

Dia adalah Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M). Salah seorang filosof Islam terbesar, ahli ilmu kalam dan pembesar ulama mazhab Maliki yang mendalami ilmu fikih perbandingan antara mazhab-mazhab fikih Islam. Dia juga seorang tokoh ilmu kedokteran dalam sejarah peradaban Islam. Terakhir, beliau adalah qadi yang mencapai derajat qadi al-qudat di Cordova – yang menyamai kedudukan menteri kehakiman di zaman sekarang. Dia menjabat sebagai qadi di Asbilia pada 564 H/1169 M, kemudian menjabat sebagai qadi al-qudat Cordova pada 566 H/1171 M.

Dalam sejarah filsafat, Ibn Rusyd dikenal secara internasional, dengan proyeknya, membaca, memahami, dan mensyarah hasil karya filosof Yunani Aristoteles (384/322 S.M.). Dia memulai proyek filsafatnya ini, karena permintaan kerajaan dan Sultan Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf (555-595 H/1160-1199 M) dan karena dorongan dari filosof Ibn Tufail (494- 581H/ 1100-1185M). Sedang kreasi dan prestasi Ibn Rusyd dalam ilmu kalam terepresentasi dalam warisan pemikirannya, yaitu: tahafut al-Tahafut – kitab yang menjawab serangan Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111M) atas para filosof terdahulu. Lalu Manahij al-Adillah fi ‘aqaid al-Millah – kitab yang didalamnya menghakimi manhaj para ahli kalam, terutama Asy’ariyah. Kemudian Fasl al-Maqal fi ma bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittisal dan kitab Dhamimah fi al-‘ilm al-Ilahi. Dia melihat secara logika Al-Qur’an yang menggabungkan antara hikmah dan syariat Kitab tersebut merupakan dua teks peninggalan Islam yang sangat berharga.Dalam warisan ilmu kalam dan filsafat ini, Ibn Rusyd mewujudkan mazhabnya dalam mempertemukan antara hikmah (filsafat) dengan syariat (agama dan wahyu).

Dalam ilmu fikih, dia mempunyai kitab istimewa, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid. Dalam ilmu kedokteran, Ibn Rusyd mempunyai lebih dari dua puluh buku. Bukunya yang terkenal adalah al-Kulliyat. Para penulis sejarah mengungkapkan tentang kedalaman Ibn Rusyd dalam bidang kedokteran, “fatwanya dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana kekaguman mereka terhadap fatwanya dalam fikih. Itu semua karena kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya. [34]

  1. Sains

Sains Islam merupakan catatan emas bagi keagungan sejarah Islam. Prestasi dan kontribusi ilmuwan Muslim sangat besar, lebih dari bidang-bidang lainnya.

Pada masa itu ciri khas ilmuwan Muslim adalah bersifat ensiklopedik, artinya menguasai lebih dari satu cabang ilmu. Bahkan umumnya menguasai semua cabang ilmu yang ada di masanya. Sebagai contoh misalnya Ibn Sina. Kata Watt: Ibn Sina exemplifies a common feature of the Muslim scholars of this period, namely, excellence in more than one discipline, for he was at the same time one of the two greatest Arabic philosophers.[35]

Berikut adalah beberapa contoh ilmuwan Muslim yang menonjol di banyak bidang seperti matematika, fisika, kedokteran, astronomi, geografi dll. Selengkapnya dapat di lihat pada daftar ilmuwan Muslim pada lampiran 1.

1) Al-khawarizmi

Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (780-850M) ialah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas, bukan saja meliputi bidang syariat tapi di dalam bidang filsafat, logika, aritmatik, geometri, musik, sastera, sejarah Islam dan kimia. Dalam usia muda beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Beliau bekerja dalam sebuah observatory, yaitu tempat khusus menekuni matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercayai memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis Ensiklopedia pelbagai Disiplin.

Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh yang mula-mula memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematik dan menghasilkan konsep-konsep matematik yang begitu popular sehingga digunakan pada zaman sekarang.

Sumbangan Al-Khawarizmi yang sangat penting diantaranya ialah :

  1. Al-Jabr wa’l Muqabalah : beliau telah mencipta pemakaian secans dan tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi.
  2. Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah : Beliau telah mengajukan contoh-contoh persoalan matematik dan telah mengemukakan 800 buah persoalan.
  3. Sistem Nomor : Beliau telah memperkenalkan konsep sifat dan ia penting dalam sistem nomor pada zaman sekarang.

Karya lainnya adalah: ‘Mufatih al-Ulum’ , Al-Jami wa al-Tafsir bi Hisab al-Hind, Al-Mukhtasar Fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah, Al-Amal bi’ Usturlab, Al-Tarikh, Al-Maqala Fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabilah.[36]

2) Al-Biruni

Abu Raihan al-Biruni (1048 M) merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.

Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku. Sumbangannya kepada matematika termasuk: aritmatika teoritis and praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah angka 3, bilangan irasional, teori perbandingan, definisi aljabar, metode pemecahan penjumlahan aljabar, geometri, teorema Archimedes, sudut segitiga

Hasil kerjanya yang bukan matematika termasuk: Kajian kritis tentang ucapan orang India, apakah menerima dengan alasan atau menolak (sebuah ringkasan tentang agama dan filosofi India), Tanda yang Tersisa dari Abad Lampau (kajian komparatif tentang kalender dari berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, Peraturan Mas'udi (tentang Astronomi, Geografi dan Keahlian Teknik), Pengertian Astrologi, Farmasi, Permata (tentang geologi, mineral, dan permata), Astrolab, Sejarah Khawarizm.[37]

3) Ibnu Haitsam

Abū Alī al-Hasan bin al-Hasan bin al-Haitsam (956 M) adalah seorang ilmuwan Muslim yang berkontribusi dalam bidang fisika.Ibnu Haitsam terkenal dengan magnum opus-nya yaitu Kitab Al-Manazir yang memuat penjelasan tenteang teori optika serta Mizan al-Hikmah yaitu memuat teori fisika. Bukunya ini diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad pertengahan

Selama di Spanyol, Ibnu Haitsam melakukan berbagai riset dan percobaan ilmiah menyangktu bidang optika. Penemuannya yang terkenal adalah ilmu refraksi yakni hukum fisika yang menyatakan bahwa sudut refleksi dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk.

Dalam fisika modern, hukum refraksi ini dikenal dengan nama "hukum refraksi Snellius"

Ibnu Haitsam dikenal sebagai Alhazen di Eropa. Teori optika yang dikemukakannya mempengaruhi beberapa ilmuwan besar Eropa seperti, Johannes Keppler dan Roger Bacon. Riset ilmiahnya juga menjadi cikal bakal riset eksperimental yang kemudian dikembangkan di Barat.

Pendapatnya di bidang Astronomi tentang lapisan atmosfer dan perkiraannya tentang jarak matahari dengan benda-benda angkasa lainnya dipercaya mempercepat temuan-temuan ilmuwan barat tentang kosmologi modern.[38]

4) Jabir bin Hayyan

Abu Musa Jabir bin Hayyan (750-803 M), atau dikenal dengan nama Geber di Barat. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, di masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

Karya Jabir antara lain: Kitab Al-Kimya (diterjemahkan ke Inggris menjadi The Book of the Composition of Alchemy) , Kitab Al-Sab'een, Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.[39]

5. Ibnu Sina

Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (980-1037) Ia dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad

Ibnu Sina mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun. Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Ibnu Sina adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu." pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).[40]

E. PENGARUH ILMU PENGETAHUAN ISLAM DI DUNIA BARAT

Untuk menunjukkan betapa besarnya pengaruh kebudayaan Islam terhadap kebangkitan Barat , khususnya bidang ilmu pengetahuan, dapat kita baca dari pernyataan Prof Ira M. Lapidus berikut ini: Yet Islam is also a source of enlightenment for the west. Toledo in the middle ages, part of Muslim Spain, was the centre for the transmission to the rest of Europe of Greek and Hellenistic philosophy and science with Arabic and Hebrew commentary. Scientific advances in mathematics, astronomy, and medicine came to the west under the aegis of Islam. The Muslim world had long been the hub of international trade.”[41]

Marcel A. Boisard juga menunjukkan pengakuan yang sama bahwa peradaban yang menjadi dasar kebudayaan Laut Tengah (Mediterania) selama 7 abad pada zaman Pertengahan adalah Islam, yang kemudian berpengaruh besar terhadap Barat. Islamlah yang telah mengumpulkan dan memberi komentar terhadap karya-karya klasik dan menyerahkannya pada Barat.Bukankah Ibnu Rusyd dan Ibn Sina merupakan guru-guru bangsa Eropa selama beberapa generasi? Musa bin Maimun (Maimonides) filosof Yahudi yang abad 12 yang besar pengaruhnya terhadap jiwa Yahudi dan Barat, bukankah ia hidup [dan menikmati kebebasan] di Negara Islam di Spanyol?[42]

Pengaruh ini masuk melalui jalur lembaga pendidikan Islam khususnya di Cordova, Toledo, Sisilia. Banyak dari pelajar-pelajar Eropa yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut, dan telah menerjemahkan buku-buku karangan ilmuwan Muslim ke dalam bahasa mereka.[43] Mengenai daftar buku-buku yang diterjemahkan, dapat di lihat pada lampiran 2.

Besarnya pengaruh Ilmu pengetahuan Islam ini menimbulkan sikap simpatik pada beberapa sejarawan modern seperti Watt. Ia mengatakan "Because Europe was reacting against Islam it belittled the influence of Saracens [Muslims] and exaggerated its dependence on its Greek and Roman heritage. So today an important task for us is to correct this false emphasis and to acknowledge fully our debt to the Arab and Islamic world"[44]

F. KESIMPULAN

  1. Lembaga pendidikan memiliki peran dalam memajukan ilmu pengetahuan yang mengajarkan ilmu naqliyah maupun aqliyah, sehingga melahirkan ilmuwan-ilmuwan ensiklopedik.
  2. Konsep ilmu-ilmu saat itu tidak mengenal adanya pemisahan. Ilmu-ilmu saling terintegrasi
  3. ilmu pengetahuan menjadi tonggak peradaban Islam,dimana umat Islam telah mengembangkan lebih jauh dari karya-karya Yunani baik metode dan penerapannya. Namun dasarnya adalah al-Quran dan Sunnah.
  4. Kontribusi Islam sangat besar atas ilmu pengetahuan modern sekarang ini; yang berawal dari peralihan ilmu pengetahuan Islam ke Eropa, yang kemudian membangkitkan gerakan renaisans abad ke 17.
  5. Bila dikaitkan dengan studi ilmu dakwah, maka salah satu agenda penting dakwah Islam sekarang ini adalah memajukan kembali pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Francis Robinson (ed), Islamic World, (Cambridge University Press, Preface by Ira M. Lapidus.

George A. Makdisi, The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West, (Edinburgh University Press, Edinburgh, 1990).

Hamed A. Ead, Arabic (or Islamic) Influence On the Historical Development of Medicine, Heidelberg, Germany, 1998.

Hans Daiber, Bibliography of Islamic Philosophy, (Leiden: Boston, Brill, 2007), 5 editions,

Ismail L. Al-Faruqi, Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, (New York: Mcmillan Publishing Company, 1986)

Malik Bennabi, The Queastion of Ideas in the Muslim World, (Islamic Book Trust Kuala Lumpur, 2005)

Mahmoud M. Ayoub, Islam: Faith and Practice, (Islamic Book Trust Kuala Lumpur, 2001)

Marcel A. Boisard, Humanism in Islam, (Islamic Book Trust, Kuala Lumpur, 2003)

M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, (Otto Harrassowitz-Wiesbaden, 1996), vol-1

Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, (New American Library. NY 1968)

-------------------------, Traditional Islam in the Modern World, (London: Kegan Paul International, Ltd, 1987), first published,

Seyyed Hussein Nashr & Oliver Leaman, History of Islamic Philosophy, Routledge, 1999)., h.28

W. Montgomery Watt, The Majesty That Was Islam, (Great Britain: The Garden City Press, 1974), first published

WEB SITES

www.Icmi.or.id

www.wordpress.com

www.Kaunee.com

www. Wikipedia.com

www.cyberistan.org/islamic

www.cyberistan.org/islamic, W. Montgomery Watt, Islamic Surveys: The Influence of Islam on Medieval Europe; Edinburgh, England; 1972

www.frcu.eun.eg/www/universities, Hamed A. Ead, History of Islamic Science Based on the book Introduction to the History of Science by George Sarton











Ibnu Rusyd atau Averroes, dari detil lukisan Triunfo de Santo Tomás, karya artis Florence abad ke-14 Andrea Bonaiuto.



[1] Malik Bennabi, The Queastion of Ideas in the Muslim World, (Islamic Book Trust Kuala Lumpur, 2005), h.22

[2] Mahmoud M. Ayoub, Islam: Faith and Practice, (Islamic Book Trust Kuala Lumpur, 2001), h.187

[3]Prof. Hamed A. Ead, History of Islamic Science Based on the book Introduction to the History of Science by George Sarton, http://www.frcu.eun.eg/www/universities/html/shc/index.htm

[4] George A. Makdisi, The Rise of Humanism in Classical Islam and the Christian West, (Edinburgh University Press, Edinburgh, 1990).

[5] Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam in the Modern World, (London: Kegan Paul International, Ltd, 1987), first published, h.125

[6] Geoge A. Makdisi, op.cit.

[7] Ibid.

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Hossein Nashr. op.cit., h.127

[11] Ibid., h.127-128

[12] Namun menurut George A. Makdisi, ilmu kalam dikeluarkan dari kurikulum pendidikan resmi oleh para penentang kalam, yaitu para ahli fikih, para ahli tafsir, dan para pelindung wakaf—lembaga yang membangun sekolah-sekolah. George A. Makdisi, op.cit.

[13] Seyyed Hossein Nasr, op.cit., h.126

[14] George A. Makdisi, op.cit

[15] W. Montgomery Watt, The Majesty That Was Islam, (Great Britain: The Garden City Press, 1974), first published, h.135

[16] Ibid. 137..

[17] Ibid. h.136

[18]Ibid., h.136-137. Perlu ditambahkan bahwa faktor sosial budaya saja tidak cukup untuk menjelaskan penerimaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan darimanapun sumbernya. Kedudukan wahyu al-Quran harus ditegaskan, seperti telah disinggung di pendahuluan, karena ia merupakan sumber pembentukan pemikiran umat Islam dan sikap penghargaan mereka terhadap ilmu pengetahuan. Dan sudah menjadi ciri khas Islam bahwa ia adalah agama yang berhubungan erat ilmu pengetahuan, mencarinya dinilai ibadah, mendapat pahala besar di sisi Allah serta menghargai tintanya ulama seperti darahnya syuhada. Al-Faruqi menegaskan: “Islam identified itself with knowledge. It made knowledge its condition as well as its goal. It equated the pursuit of knowledge with ibadah (worship) and poured its most lavish praise on those who committed themselves to its cultivation, making them the saints and friend of God, and raising their ink above the blod of the martyrs in value” Ismail L. Al-Faruqi, Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, (New York: Mcmillan Publishing Company, 1986), h.230. Perlu ditambahkan di sini penjelasan Hossein Nasr mengenai adanya kesamaan sifat wahyu dengan sains natural, sebagai factor lain yang turut menyuburkan sains Islam, sebagai berikut: The primordial character of its revelation, and its confidence that it was expressing the Truth at the heart of all revelations, permitted Islam to absorb ideas from many sources, historically alien yet inwardly related to it. This was especially true in regard to the sciences of Nature, because most of the ancient cosmological sciences -- Greek, as well as Chaldean, Persian, Indian, and Chinese -- had sought to express the unity of Nature and were therefore in conformity with the spirit of Islam. Coming into contact with them, the Muslims adopted some elements from eachmost extensively, perhaps, from the Greeks, but also from the Chaldeans, Indians, Persians, and perhaps, in the case of alchemy, even from the Chinese. They united these sciences into a new corpus, which was to grow over the centuries and become part of the Islamic civilization, integrated into the basic structure derived from the Revelation itself. Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, (New American Library. NY 1968),. Introduction

[19] Montgomery Watt, op.cit., h.226

[20] Al-Faruqi, op.cit., h.230

[21] Misalnya metode yang digunakan oleh Ar-Razi dalam menarik kesimpulan, seperti dijelaskan Watt, “For each disease he gave the views of Greek, Syirian, Indian, Persian and Arabic authors, and then added notes on his clinical observations and expressed a final opinion. Atau al-Battani yang telah berjasa memperbaiki table astronomi Ptolemeus dan menyusun table astronomi yang sangat akurat. Montgomery Watt, op.cit., h.227-229

[22] Al-Faruqi, op.cit. h.321

[23] Seperti dikatakan Hussein Nashr: “To understand the Islamic sciences in their essence, therefore, requires an understanding of some of the principles of Islam itself”. Kemudian ia menjelaskan: “The arts and sciences in Islam are based on the idea of unity, which is the heart of the Muslim revelation. Just as all genuine Islamic art, whether it be the Alhambra or the Paris Mosque, provides the plastic forms through which one can contemplate the Divine Unity manifesting itself in multiplicity, so do all the sciences that can properly be called Islamic reveal the unity of Nature. One might say that the aim of all the Islamic sciences and, more generally speaking, of all the medieval and ancient cosmological sciences is to show the unity and interrelatedness of all that exists, so that, in contemplating the unity of the cosmos, man may be led to the unity of the Divine Principle, of which the unity of Nature is the image” Seyyed Hossein Nasr, op.cit

[24] Hamed A. Ead, Arabic (or Islamic) Influence On the Historical Development of Medicine, Heidelberg, Germany, 1998.

[25] Hans Daiber, Bibliography of Islamic Philosophy, (Leiden: Boston, Brill, 2007), 5 editions, h.xii

[26] Sayyid Hussein Nashr & Oliver Leaman, History of Islamic Philosophy, Routledge, 1999)., h.28

[27] Hal ini bisa kita lihat adanya kaitan erat antara filsafat dengan wahyu dilihat dari bagaimana metode filsafat memahami wahyu, seperti penjelasan Nasr: “Islamic philosophy is related to both the external dimension of the Quranic revelation or the Syariah and the inner truth or Haqiqah which is the heart of all that is Islamic…..The very term al-Haqiqah is of the greatest significance for the understanding of the relation between Islamic philosophy and the sources of the Islamic revelation. Al-Haqiqah means both truth and reality. It is related to God Himself, one of whos names is al-Haqq or the Truth, and is that whose discovery is the goal of all Islamic philosophy. At the same time al-haqiqah constitutes the inner reality of the Quran and can be reached through a hermeneutic penetration of the meaning of the Sacred text”. Sayyid Hussein Nashr & Oliver Leaman, op.cit., h.29

[28] Sayyid Hussein Nashr & Oliver Leaman, op.cit , h.5

[29] M.M. Sharif, A history of Muslim Philosophy, (Otto Harrassowitz, Wiesbaden, 1996), vol.1., mengenai al-Kindi ditulis oleh Ahmed Fouad El-Ehwany, h.421-433

[30] Ibid, mengenai al-Farabi ditulis oleh Ibrahim Madkour, h.450-468

[31] Ibid, mengenai Ibn Sina ditulis oleh Fazlur Rahman, h.480-505

[32] www.ICMI.or.id

[33] Ahmad Sahidin, Ibnu Thufail, Novelis Muslim Dari Spanyol, www.wordpress.com

[34] www.Kaunee.com

[35] Montgomey Watt, op.cit., h.228

[36] www.wordpress.com

[37] Beberapa catatan penting aL-Biruni antara lain: 1) Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari, 2) Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar, 3) Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah, 4) Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).www.wikipedia.

[38] www. wikipwdia.com

[39] www.wikipedia.com

[40] www.wikipedia.com

[41] Francis Robinson (ed), Islamic World, (Cambridge University Press, bagian pendahuluan oleh Ira M. Lapidus.

[42] Marcel A. Boisard, Humanism in Islam, (Islamic Book Trust, Kuala Lumpur, 2003)

[43] Contonya seperti Adelard of Bath, Peter Abelard, Robert Grossetteste, Alexander of Hales, Albertus Magnus, St. Thomas Aquinas, St. Bonaventura, Duns Scotus, Roger Bacon, Marsilius of Padua, Richard of Middleton, Nicholas Oresme, Joannes Buridanus, Siger of Brabant, John Peckham, Henry of Gant, Williams of Occham, Walter Burley, William of Auvergne, Dante Algheri, Blaise Pascal, and numerous others. Tina Stiefel, The Intellectual Revolution in Twelfth Century Europe ( St. Martin's Press, N.Y., 1989), h.71, 80. www.cyberistan.org

[44] W. Montgomery Watt, Islamic Surveys: The Influence of Islam on Medieval Europe; Edinburgh, England; 1972, h.84. www.cyberistan.org/islamic

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar